Ramadhan Nan Sunyi

Ramadhan yang agung kini menyapa diriku kembali.. lewat suara gemaan adzan berkumandang, lewat seruan gurauan mesjid terngiang di telinga mengajak sahur membangunkan jiwa yang tenang, lelap dan ratapan ku di bulan kemerdekaan ini..

September membuka keajaiban ketika relung relung hati tak bisa tenang dikala mentari tak lagi mSunset+at+Tempe+Lakeemberikan ke hangatan ketika suara adzan magrib berkumandang..

Kota Pasir Berdebu jadi awal langkahan kaki berpijak Ramadhan tahun ini.. ketika suara gemuruh kendaraan bermotor yang saling berdesakan di depan pabrik yang biasa orang panggil dengan seruan Pabrik Sepatu dimana letaknya tak begitu jauh dengan tempat diriku berkerja…

Maghrib pun tiba.. ketika tubuh lusuh ini tak lagi kurasakan seperti biasanya.. hanya ada capek dan haus yang meliputi tenggorokan ini.. suara anak kecil terisak isak dengan keraguan penyebabnya apa dan ada pula yang tertawa kecil asyik bergurau dengan temannya.. kaki kecil ku kembali melangkah sembari pandangan mata tak henti hentinya memandang sebuah bangunan tua bekas Pabrik Biskuit itu.. di himpit oleh sebagian sawah tandus yang seolah meronta ronta berharap awan hitam tak lagi jadi pandangan kusam di atas sana..

Baca lebih lanjut