Going To Cibodas

Tiga hari sudah Traveling to Cibodas Park itu sudah gue lewati dengan sangat tragis.. memang terasa sangat dibuat buat, but inilah kenyataan dimana bumi memang seharusnya sudah berhenti.. hahaa.. Jenaka ketika gue harus bangun pagi dengan handuk merah gue yang sudah berumur belasan tahun kurang banyak dan dengan rasa hormat gue akhirnya minjem ember punya Mba Eva yang ketika itu harus pulang kampung dikarenakan nyokapnya sakit.. Dengan sangat lega melihat ember warna abu abu keitem iteman campur tanah akhirnya gue mandi juga.. Memang ketika itu air dikostan gue belom ngocor.. So, time is shower shower (baca : mandi berdiri) :mrgreen:

Setelah berdandan ria dengan make up yang alakadarnya.. Finally gue capcus to pabrik dengan mobil kosong layaknya mobil jenazah.. Tapi ada untungnya juga dapet duduk disamping pak kusir yang sedang berdendang dalam setir bulat yang mirip ma combro goreng.. Dengan sangat ikhlas gue ucapin makasih banyak dan gue kucurkan uang serebu perak buat menemani perjalanan pak kusir tadi… hehehheeee… (lumayan buat beli rokok setengah batang) 😀

Sesampainya dipabrik gue langsung berlari ala koboy yang kehilangan kudanya ke mesjid untuk menunaikan ibadah suci yang lebih harum daripada mandi dikolam tetangga.. Janggal memang kalimatnya tapi tak mengapa karna sekarang waktunya sholat shubuh.. Dengan sangat terkesima gue pun beranjak dari tempat sujud melangkah pasti ke sebuah bis yang memang ini lebih dingin daripada kutub selatan dan lebih panas dari kawasan zona matahari.. It’s time for buka jendela mobil “AJA” Sumpah klo pun ada yang mau ikut ini karena terpaksa.. Ya mungkin terpaksa karena mereka belum pernah naik bisa purbakala semacam ini.. Hmm… Maybe…

Bisa pun bergerak dengan suara yang tidak beraturan.. Layaknya medan perang yang diterjal batu karang campur paku.. Tapi tak mengapa, dinikmati sajalah walaupun gue tahu klo sebentar lagi bis ini akan tertimpa muntahaan gunung berapi gara gara belum sarapan dan belum minum obat anti mabok (duren), suara nyaring seorang bapak berbadam gendut seperti halnya guide dalam perjalanan.. Tapi bedanya dia lebih berisi karena sebentar lagi amplop warna putih itu akan dibagikan (lho ko?!) Yupz disela sela hiruk pikuk mereka yang membawa keluarga memang masih ada sedikit senyuman dengan kedatangan benda dan kaos biru yang bertitelkan “Family Day”

Akhirnya jalan demi jalan pun dilalui dan gang demi gang pun terlewatkan dengan sangat indahnya dan dikala matahari menggisikan mata lelapnya dengan ditemani sebilah awan memadu madankan aroma warna merah megah dengan keperkasaan harmoni pagi.. Tuhan, ini memang akan terasa indah jikalau belahan jiwaku ikut dan berada dalam pelukanku.. (Upz sedikit curhat) Yah memang ketika itu pacar gue ga’ ikut dikarenakan gue pun merasa iba jikalau tiba tiba dijalan gue harus beli kipas kipasan sate dengan harga gopean (emang ada apa?!) Back to real story, entah kenapa pas disana gue jadi teringat akan kesadisan para penyiram pohon dengan harus rela melepas kelajangan mereka dalam suasana lomba kencing berdiri.. Hahhaaa… Gokil memang terasa saat mereka harus berlari ketepi bis yang saat itu macet perlahan dengan nuansa kipas berdendang. Gue pun berfikir dan sejenak berkata

“Ada untungnya juga tuch pohon ditanem..”

Selepas angin siang melambai dengan desahaan kesejukan aroma Puncak yang mulai terasa di pundak yang bercucurkan keringat.. Siang itu matahari mulai terik perlahan dengan sang awan yang selalu menemaninya.. Sembari keluar dari bis yang lebih panas dari kerak kompor tetangga, gue pun memberanikan diri untuk terus berjalan layaknya Backpaker kusam dengan tas gendongnya.. Tapi bedanya gue agak sedikit sempoyongan karena memang kondisi jalan saat itu menanjak dan sedikit curam untuk berkoprol ria.. Satu yang membuat terkesima saat itu, yaitu sebuah benda yang tidak jauh dari pot berhiaskan bunga dan kumbang merah dalam genggaman.. Hebatnya pernik ini bergerak ketika tersengat sinar matahari.. Woooww.. So beatiful.. (sambil tiduran dengan mata tertuju pada setitik awan kecil) So, finally gue beli dengan harga yang cukup fantastis it’s Rp. 30.000,-

After that, sesampainya di ketinggian 500 drajat Celcius bin Fahrenhet (sumpe anak TK ga’ bakalan lulus klo diajarin kya gini) haahaaa… Ga’ lha yang jelas sampailah gue pada sebuah tempat yang dinamakan “Cibodas Park” atau bahasa Inggrisnya Taman Cibodas.. Gue pun heran kenapa taman ini disebut Taman Cibodas, kenapa ga’ Taman Cibeureum, Cihejo, or Citerapung… Hmm.. Maybe yang punya hajat yang tahu.. I hope so.. :mrgreen:

******** Coming Soon ********

Campaign 2 - Banner 1

Free Website Hosting

Iklan

8 thoughts on “Going To Cibodas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s