LOVE STORY ala Rangga

Part I

Pagi itu cuaca cerah.. keika langit tak lagi diselimuti awan hitam dan ketika burung berkicau ria penuh jenaka.. Pagi itu memang tak biasanya bagi Rangga yang harus pamit dari gubuk tercintanya itu.. dimana ia mengais kasih sayang dari beragam teman yang ia temukan ketika SMA. Tinggal disebuah gubuk tua dengan title Yayasan itu seolah membuka matanya untuk terus bejuang demi masa depan yang lebih cerah..

love-story-ala-gue

Beriring dari sebuah amplop kecil berukuran setengah meter itu, ia langkahkan kaki kesbuah kota kecil disebrang ujung Provinsi Banten itu.. Cilegon, itulah kota yang teramat manis bagi semua pelancong yang tinggal di pesisir jalan raya. Amplop itu memang tak ada harganya dibandingkan dengan jerih payah seorang buruh memikul beras dalam toko, tapi bagi Rangga sangat berarti melebihi segalanya. Karena demi mendapatkan amplop itu, ia harus rela pulang pergi dan bersaing dengan anak Jakarta.

Dunia pendidikan memang tak hanya milik orang berdasi saja, tapi melainkan dunia pendidikan adalah hak bagi semua orang. Berangkat dari ketidak tahuan, Rangga yakin bahwa dirinya bisa menggapai apa yang ia inginkan.

Sebuah lembaga pendidkan sesaat muncul ketika Rangga melewai jalan boulevard di sebuah komplek bernama Bona Estele itu, kakinya masih sangat rapuh di sunting angin jalanan yang tertiup dari semua kendaraan yang berlalu lalang. Keringat bercucuran ketika terik matahari menyengat di pipinya. Seakan tak bedaya melawan ketidak pastian yang ada, karena yang ia tahu bahwa Cilegon adalah kota yang sangat misterius, dimana tindak kriminal suatu saat bisa terjadi.. kayuhan kaki terhenti ketika Lembaga Pendidikan link and match itu berada dimuka, dan dengan keberanian yang ada ia sampaikan pada pimpinan manager tentang surat yang berisi pengantar dari kantor pusat itu..

Disinilah awal semua tantangan itu terjadi, ketika rasa kemandirian itu harus dikedepankan, ketika semua tak lagi mengenlnya. Rasa kekhawatiran memang senantiasa menghantui setiap waktu. Berbekal petuah dari sang guru untuk selalu ingat diri, tahu diri yang sangat kental menjalar disetiap nadi yang ada.. pekerjaan itu memang tidaklah sulit, ketika tenaga dan pikiran harus menyatu dalam ruang keberanian dan kepasrahan.

Hari hari ia jalani dengan penuh semangat dan citra diri yang luar biasa. Rangga tahu dengan adanya teman sekaligus partner kerjanya yang bernama Mus itu kian nampak dan semakin solid. Dan beragam nasihat dari orang terdekatnya yang sama sama tinggal dalam satu atap kampus itu. Kuliah yang ia jalani memang ketika itu adalah malam hari. Dan waktu siangnya ia habiskan untuk berjuang melayani sesama.

Hari berganti hari, ketika rumput pun berubah jadi ilalang jalanan yang memenuhi setiap ruang yang ada. Teman yang rangga miliki pun kian hari semakin banyak saja, hingga ketika itu ajang untuk berinteraksi dunia pertemanan ia habiskan di dunia maya. Suka dan duka ia lewati bersama teman curhatnya bernama Simas, orang jawa tulen itu memang sekelas dengannya dan tak hanya itu, ia pun bernasib sama dengan apa yang rangga alami untuk melewati dunia pendidikan.

“ternyata perjuangan lo untuk kuliah luar biasa juga ya mas..” ungkap rangga.

“ya memang.. untuk kuliah aja gue biayain sendiri ga..” sahut simas mantap.

“klo geto nasib lo hampir sama dengan nasib gue mas.. ya apa boleh buat inilah hidup..”

“mo gimana lagi klo ga’ dijalanin..”

Suara itu masih terngiang disela sela waktu kosong di penjuru ruangan kelas. Taka hanya simas yang sering menanggapi curahan hati seorang pria berambut lurus itu, kadang ia sempatkan waktu juga dengan temannya yang lain, semisal Dizet dengan suaranya yang berat mempunyai ciri yang khas pula, bahkan teman wanitanya yang ada ketika suara hati itu siap untuk disampaikan. Ketika suara hasrat suka dengan lawan jenis itu sulit untuk dipendam. Iik adalah nama panggilan dari seorang Mudrikah. Teman sekaligus tempat curhatnya seorang rangga.

Satu tahun tak terasa berlalu begitu cepat, ketika mentari masih hangat menyinari semua makhluk di planet biru itu. Waktu memang begitu cepat meninggalkan romanisme dari seorang rangga besama tema temannya, kini semester III harus ia lewati bersama satu sahabat wanitanya, ketika dua orang temannya itu tak lagi menghiasa dalam keriangan satu kelas seperti dulu. Tapi mereka masih saling bertemu dalam sekmen lain, ketika dunia pelajaran tak lai dibahas dan ketika acara makan bersama dilewati disebuah kantin mungil dibawah lantai dua kampus itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, rangga pun kini semakin tahu tentang wanita yang menurutnya cukup signifikan untuk diajak berdiskusi, canda tawa, bahakan rangga pun bisa menilai wanita dari sekian wanita yang ada.. Hingga suatau waktu ia sempat untuk ingin menjalaninya bersama teman sekelasnya itu, bukan mudrikah. Tapi kini rangga tahu bahwa Sulis lebih anggun dan cukup untuk bisa berbagi ilmu dan kasihnya itu berdua.

Hari hari kini tak lagi sepi. Ketika rangga masih dalam proses PDKT dengan wanita berdarah Serang itu. Semangat dalam belajar pun ketika itu semakin meningkat, ketika Dosen siap untuk ia taklukan layaknya sang gembala ketika kerbaunya lari dari padang rumput yang ada. Hingga cerita asmara itu sering kali mengganggu telinga teman curhatnya itu. Memang tak ayal ketika seseorang perlu untuk menuangkan isi hatinya dikala rasa itu datang.

Rasa heran itu muncul ketika Sulis tak lagi menanggapi apa yang rangga rasakan. Ketika duduk bersamaan, sulis pun seakan menghindar untuk jauh dari sisi rangga. Keheranan pun terus berlanjut ketika semua pemecahan tak lagi jadi patokan untuk rangga memeluk hati sang idamannya itu. Hingga suatu waktu, ia memberanikan diri untuk menanyakan kepastian cintanya itu melalui sebuah telpon genggam, dan percakapan pun berlanjut sampai hasil sebuah rasa itu tak bisa lagi dilanjutkan, karena sulis terlanjur mencinatai orang lain. “ya udah dech klo gitu.. maaf!!”, itulah sekelumit perkataan terakhir rangga yang ia ucapkan pada buah hatinya itu.

Cerita cinta seolah tak asing lagi bagi rangga dan teman curhatnya Rika. Hingga short message service (SMS) berkali kali mereka kirimkan. Bagi Rangga kasus percintaan memang selalu mengenaskan. Ketika perasaan itu tak ada yang menerima. Rangga mulai sadar dengan apa yang ia alami, ketika cerita cinta mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan kini, hanya satu kali ia pernah merasakan cinta pertamanya itu dalam gala cerita SMA. Dan yang ia tau memang, cinta pertama itu sulit untuk digantikan, ketika semua berujung dari sebuah kata perpisahan.

Hingga berjalannya waktu, kini perasaannya itu hilang entah dimana pada seorang wanita bernama Sulis itu. Hari hari yang kini ia jalani terasa sepi, tak ayal jikalau waktu lebih ia habiskan untuk nge-blog di Internet.

Berawal dari sebuah nama yang lekat pada dunia komunitas anak muda yang akrab disapa Friendster atau FS itu, Rangga mulai tertarik lagi dengan seorang wanita yang ia anggap dia adalah wanita yang pintar, baik walau memang dia sedikit cuek. Cerita pun berlanjut ketika Rangga mulai menceritakan tentang karakteristiknya pada Mei, seorang wanita yang sama satu jurusan namun beda kelas itu.

Awalnya memang Rangga anggap bahwa pertemuannya di dunia maya itu biasa saja. Bahkan dalam kesehariannya pun ia anggap bahwa wanita bernama Mei itu hanya teman biasa yang dahulu memang ia tak terlalu akrab dengannya. Karena memang yang Rangga rasakan ketika itu dia adalah wanita yang beda kelas dengannya.

Suatu ketika ada yang heran dengan Mei, dia seolah memberi harapan cinta pada Rangga untuk masuk lewat tatapannya itu. Rangga hanya bisa menganggap hal itu lumrah lumrah saja. Namun dengan waktu yang terus bergulir ketika mereka semakin akrab di dunia FS itu, membuat Rangga sedikit menyimpan perasaan pada wanita yang umurnya diatas ia sendiri. Berkali kali Rangga berfikir untuk tidak membiarkan perasaannya itu pun berlarut larut, hingga ia putuskan itu hanya hal yang biasa dan tak perlu dibahas lebih lanjut.

Tapi anggapan Rangga itu salah besar, ketika tak hanya di dunia maya saja ia berbicara dengan Mei, bahkan di dunia nyata pun mereka semakin akrab saja.

Malam pun tiba, ketika Rangga mulai bercurhat ria pada Mei, bahwa ia suka pada seorang wanita yang selalu membayangi kehidupannya itu. Mei pun penasaran dengan perasaan Rangga itu, hingga ia mencoba untuk tahu siapa wanita yang ia kasihi itu. Namun Rangga hanya bisa menjawab itu masih rahasia.

Hari pun berlanjut ketika matahari tak lagi memberikan sinar abadinya dengan kilauan bintang diatas sana. Disini Rangga pun mulai bertekad untuk mengungkapkan perasaannya pada sesosok wanita yang ia kasihinya itu. Walaupun hanya sebatas ungkapan saja, bagi Rangga itu sudah lebih daripada cukup. Lewat sebuah telpon genggam ia pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi mengenani perasaannya itu pada Mei. Mei pun kaget tentang perasaan rangga padanya, tapi ia mengerti dan hanya bisa mengamini saja. Walau ia tahu Rangga hanya sekedar mengungkapkan perasaannya saja.

Tak hanya sebuah ungkapan memang, terkadang cinta tumbuh dari sebuah makna kedekatan dan nyambung jikalau diajak bicara. Hmm.. ironis memang apa yang dirasakan Rangga…

Hingga kini, ia tak pernah tahu jawaban apa dari seorang wanita yang ia kasihinya itu.. hanya bisa berharap…

Dan apakah Rangga akan tetap setia dengan perasaannya itu?? or Apakah Rangga akan mencari wanita lain??

Tunggu saja kisahnya di episode “LOVE STORY ala Rangga in Part II” mendatang…

See U.. 🙂

Free Website Hosting

Free Website Hosting

Iklan

13 thoughts on “LOVE STORY ala Rangga

  1. Wah bikin cerpen yawh..

    Hhmmm..Terus semangat yawh…

    Saya mah ga bisa menikamati karya seni semacam ini, semoga sukses lah..

    Salam hangat Bocahbancar….

  2. semua’y lewat telpon, mang klo ungkapin langsung ga brani ya???
    cemen neh,,,,
    klo mau tau jawaban’y, jangan cuma lewat telp doang!!

    AYO BERANI!!!!!

  3. Sori bro… maksudnya cerita yang menarik. Keyboard diwarnet pada hilang hurufnya. 😆

  4. waduh di ujung penantian ni… jgn2 cinta rangga hanya bertepuk sebelah tgn aja… cari yang pasti2 aja lah ga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s